Euro 2016: Kenapa Italia Selalu Dijagokan Tiap Turnamen?

, Paris – Putaran final kejuaraan sepak bola antarnegara Eropa yang lebih sering disebut Piala Eropa atau Euro 2016 di Prancis, tinggal menunggu hitungan hari. Satu di antara tim yang selalu dijagokan di arena yang juga disebut “Piala Dunia Kecil” ini ialah Italia. Italia selalu ditempatkan sebagai favorit juara karena memiliki sejarah luar biasa di kancah cabang olahraga terpopuler di planet bumi ini. Sebut saja Piala Dunia, arena tertinggi di bumi, tim Gli Azzurri atau The Blues atau Si Biru ini pernah empat kali merebut trofi juara (1934, 1938, 1982, 2006). Prestasinya ini sama dengan pencapaian Jerman (4 kali juara) dan satu anak tangga di bawah prestasi Brasil (5 kali juara). Di arena Piala Eropa, tim Azzuri telah sembilan kali tampil di putaran final sejak 1968. Pretasi yang telah diukir yaitu sekali merebut trofi juara pada 1968, dua kali runner-up pada 2002 dan 2012, sekali menempati urutan keempat pada 1980, dan sekali sebagai semifinalis pada 1988. Pada babak final Piala Eropa 1968, Italia dua kali menghadapi Yugoslavia, di Stadion Olimpiade, Roma, Italia, 8 dan 10 Juni. Pada final pertama Italia dan Yugoslavia membagi angka sama 1-1, sedangan pada final kedua Italia menang 2-0. Prestasi itulah yang akan diulang kembali oleh tim Italia yang sekarang ditangani pelatih Antonio Conte. Mantan pemain gelandang tim Italia 1994 hingga 2000 berusia 46 tahun ini dikenal memiliki tangan dingin selama kariernya sebagai pelatih. Conte pernah menangani sederetan klub, di antaranya Juventus. Ia dipercaya menangani Si Biru mulai 2014 hingga sekarang. Meloloskan kembali Italia ke Prancis merupakan bukti nyata kesungguhan Conte mempertanggungjawabkan kepercayaan itu. Italia juga telah membukukan hasil yang lumayan bagus selama persiapan menuju Prancis. Dalam tiga pertandingan persahabatan terakhir, pasukan Conte memetik hasil sekali imbang, sekali kalah, dan sekali menang. Hasil imbang (1-1) diraih melawan tim juara bertahan Spanyol di Udine, Italia, 24 Maret lalu. Setelah itu mereka kalah telak 1-4 melawa tuan rumah Jerman di Munich, 29 Maret lalu. Adapun pada pertandingan terakhir persahabatan melawan Skotlandia di Malta, 29 Mei lalu, Italia menang tipis 1-0. Ditilik dari sisi materi pemainnya, pasukan Conte merupakan hasil tempaan liga setempat dan liga Eropa. Sebut saja sang kapten Gianluigi Buffon, yang pada usia 38 tahun sekarang masih merupakan satu di antara penjaga gawang terbaik dunia. Ia sudah 157 kali memperkuat tim Italia di berbagai arena. Di lini belakang, terdapat Giorgio Chiellini, sang komandan wilayah ini. Dengan reputasi 83 kali mejadi palang pintu tim nasional, ia sangat diandalkan menjaga kedaulatan wilayah pertahanan tim Azzurri. Pada lapangan tengah, Conte memiliki Thiago Motta, Antonio Candreva, Daniele De Rossi, dan Stephan El Shaarawy. Selain mereka masih terdapat sejumlah gelandang penjelajah lini vital ini. Para pemain gelandang itu tidak akan membuat sang manajer kesulitan membuat pilihan sesuai dengan taktik bermain yang diinginkan. Di lini pendobrak garis pertahan lawan, Italia akan mengandalkan Simone Zaza, Graziano Pelle, Ciro Immobile, Eder, dan Lorenzo Insigne. Mereka semua sudah siap dimainkan di Prancis nanti. Italia pada babak penyisihan nanti berada di Grup E bersama kesebelasan Belgia, Irlandia, dan Swedia. Buffon dan kawan-kawan akan mengawali pertandingan melawan Belgia di Parc Olympique Lyonnais, Lyon, pada 10 Juni mendatang. Tanpa meremehkan kekuatan tim lainnya di Grup E, kemungkinan besar Italia akan lolos dari babak kualifikasi grup ke putaran selanjutnya. Belgia, Irlandia, dan Swedia belum pernah memenangi Piala Eropa sekalipun sehingga tak berlebihan kalau Italia lebih difavoritkan ketimbang mereka. Skuad Italia Penjaga gawang: Gianluigi Buffon (Juventus), Federico Marchetti (Lazio), Salvatore Sirigu (PSG) Belakang: Mattia De Sciglio (Milan), Giorgio Chiellini (Juventus), Matteo Darmian (Manchester United), Angelo Ogbonna (West Ham United), Andrea Barzagli (Juventus), Leonardo Bonucci (Juventus) Tengah: Antonio Candreva (Lazio), Alessandro Florenzi (Roma), Tiago Motta (PSG), Stefano Sturaro (Juventus), Daniele De Rossi (Roma), Marco Parolo (Lazio), Federico Bernadeschi (Fiorentina), Stephan El Shaarwy (Roma), Emanuele Giaccherini (Bologna) Depan: Simone Zaza (Juventus), Graziano Pelle (Southampton), Ciro Immobile (Torino), Eder (Inter Milan), Lorenzo Insigne (Napoli) UEFA | AGUS BAHARUDIN

Sumber: Tempo.co