Mengapa Banat Maghribi Keliaran sampai ke Puncak?

Rimanews – Maraknya pengungkapan prostitusi Banat Maghribi atau cewek Maroko di kawasan Puncak, Bogor dan Jakarta membuat banyak orang bertanya-tanya. Pasalnya, Maroko selama ini dikenal dengan citra yang baik. Jika mengacu ke sejarah masa silam Walisongo, ada salah satu wali yang disebut-sebut berasal dari Maroko, yakni Maulana Malik Ibrahim. Pada era 1990an, pemikiran Islam di Indonesia sempat disemarakkan dengan kecemerlangan gagasan intelektual Maroko Muhammad Abed al-Jabiri (1935-2010), dengan kritiknya yang tajam terhadap gerakan salaf dan kelompok liberal. Baca Juga Sri Bintang Menolak Kalah, Menolak Takluk Ganjar Tantang Muhammadiyah Bersihkan Prostitusi Sunan Kuning Dua Orang Tewas Tertimpa Runtuhan Rumah di Lebak Namun, kini yang ada di kepala orang Indonesia tentang Maroko adalah gadis-gadis cantik penjaja seks bertarif wah. Maklum, perempuan Maroko dibekali komposisi gen Arab-Eropa yang aduhai. Wajah dan tubuh mereka tak kalah menarik dari artis hollywood atau bintang film dewasa sekali pun. Tren Banat Maghribi meramaikan pangsa PSK impor sebelumnya yang didominasi produk asal Thailand, Filipina, Vietnam, Uzbekistan, China dan Amerika Latin di awal tahun 2000an. Menyerbu Indonesia Gelombang besar-besaran Banat Maghribi dimudahkan oleh fasilitas bebas visa yang mulai berlaku sejak tahun lalu. Namun, fasilitas ini tentu tak bisa disebut sebagai penyebab para wanita tersebut menjual diri. Maraknya PSK Maroko tak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi dan sosial di negara Afrika Utara tersebut. Dalam sebuah riset oleh pemerintah Maroko pada Mei 2015, terdapat lebih dari 19 ribu PSK di kota Rabat, Agadir, Tangier and Fez saja. Separuh dari mereka memiliki anak yang harus bergantung hidup kepada mereka. Di seluruh Maroko, terdapat lebih dari 50 ribu PSK. Marrakech disebut sebagai sorga seks di negara yang menghadap laut Mediterania itu. Pelacuran adalah fenomena yang menjadi isu besar di Maroko sendiri, menyusul tingkat pengangguran yang sangat tinggi, mencapai 10 persen. Di kota pelabuhan Tangier, misalnya, 4200 PSK berkeliaran mencari pelanggan warga negara asing karena pria lokal banyak yang tak mempunyai uang akibat sulitnya pekerjaan. Pada 2015, fenomena ini ditangkap oleh sineas setempat dengan merilis film berjudul Nabil Ayouch’s Much Loved , berkisah tentang pelacuran di Marrakech, yang kemudian dilarang oleh Kementerian Komunikasi dan sempat menimbulkan ketegangan. Loubna Abidar, aktris yang memerankan salah satu pelacur harus melarikan diri ke Prancis karena mendapat serangan. Sama seperti di Indonesia, PSK Maroko didominasi korban rusaknya rumah tangga, KDRT serta kesulitan ekonomi. Meskipun pelacuran adalah ilegal berdasarkan UU negara dan agama, menjual diri tetap tak terhindarkan. Menurut organisasi Pan-Afrika melawan AIDS, di Maroko, pelacur secara rerata dibayar 200 dirham atau sekitar Rp250 ribu sekali kencan. Beberapa pelanggan membayar kurang dari itu, sekadar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membayar SPP anak-anak PSK. Di kafe-kafe dan hotel mewah pelacur Maroko papan atas dibayar 300 sampai 2000 dirham (sekitar Rp375ribu-Rp2,5 juta). Jika melihat harga yang mereka terima di Maroko, tak salah jika mereka akan melihat Indonesia sebagai surga. Tarif cewek-cewek Maroko di Jakarta dan sekitarnya berkisar Rp5 juta sampai Rp25 juta. Saking maraknya pelacuran di Maroko, di beberapa hotel berbintang jaringan internasional pun mereka bisa mengetuk pintu kamar. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : PSK Maroko , kriminal , Nasional

Sumber: RimaNews