Guru Sumber Bullying

Rimanews – Persoalan guru membully atau merundung siswa barangkali lebih sering terjadi daripada yang orang bayangkan. Trauma sebagai akibat dari perundungan yang dilakukan guru juga kerap lebih mencekam daripada yang dilakukan teman sebaya. Pasalnya, jika guru yang melakukannya, siswa biasanya tak berani mengungkapkan, apalagi melawan. Isu ini mungkin agak kontroversial, karena guru biasanya dipersepsi berbekal kasih menghadapi murid-muridnya. Namun, persoalan ini penting untuk diketengahkan demi memahami situasi nyata dalam pendidikan kita: bahwa ada guru yang benar-benar menggunakan keahliannya untuk mengajar dan ada pula guru sumber bullying. Dua-duanya eksis di sekolah (termasuk universitas), sebagaimana baik dan buruk di diri manusia. Baca Juga JK: Masjid Harus Moderen KPK Ajari Anak-Anak Bahaya Korupsi “Perasaan Saya Hancur” Banyak sekolah membiarkan guru melakukan tugasnya tanpa memberikan pemahaman atau pendidikan tersendiri tentang bagaimana mendisiplinkan atau mengendalikan kelas tanpa merundung siswa. Di saat yang sama, banyak guru merasa bahwa dalam menjalankan profesinya mereka memiliki bakat mengajar secara natural, sehingga tak perlu lagi belajar bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan klien (dalam hal ini siswa/mahasiswa). Di sisi lain, banyak institusi pendidikan juga membiarkan para pengajar secara liar memasuki kelas dan berharap mereka melakukan tugasnya dengan baik, tanpa kontrol yang memadai. Padahal, ada sejumlah orang yang terjun ke dunia pendidikan tanpa bekal kemampuan mengajar dan komunikasi. Namun, sistem hanya berharap mereka bekerja sebagaimana mustinya tanpa memberikan pelatihan bagaimana melakukan pendekatan ke anak didik. Guru seharusnya berlimpah sifat peduli dan perhatian ke siswa. Namun, tak jarang, karena sejumlah alasan, mereka berubah menjadi monster bagi murid. Harus diingat bahwa dampak bullying oleh guru tak akan berhenti saat kelas usai, tapi sepanjang hayat. Guru yang melakukan perundungan biasanya mempunyai pola yang sama. Mereka mempermalukan siswa di depan kelas atau di muka umum, secara verbal dan nonverbal. Cukup sering, mereka mengajak murid-murid yang lain untuk membantu “menghabisi” siswa yang jadi sasaran. Siswa yang sudah telanjur jadi sasaran bulyying guru akan terus dijadikan teladan buruk bagi yang lain, kalau mungkin sampai siswa tersebut lulus pun siswa tadi masih disebut-sebut. Model terbaru adalah mempermalukan siswa di media sosial. Guru menceritakan siswa yang tengah dihukum, tertidur atau melakukan aksi tak pantas di sekolah, lalu mereka menempel di dinding medsos yang dia miliki dan mengundang semua orang untuk mentertawakannya. Atau, guru memotret karya, lengkap dengan nama siswa, yang dianggap buruk. Lalu, dia menjadikannya sebagai bahan olok-olok, seolah-olah tak ada hiburan lain selain merendahkan martabat siswa. Harus diingat bahwa hukuman di sekolah adalah untuk mendidik, tidak untuk mempermalukan. Derita dalam diam Tak ada data pasti di Indonesia, berapa persen siswa yang pernah jadi korban bullying guru. Yang jelas, anak-anak yang menjadi sasaran perundungan gurunya biasanya tak berani mengungkapkan traumanya kepada keluarga, terutama anak lelaki. Anak-anak biasanya menganggap guru adalah otoritas tertinggi sehingga mereka pikir tak ada yang dapat dilakukan jika dia bertindak tak wajar, di luar aturan atau melanggar hak anak serta murid. Meskipun tanpa pernah mengungkapkan secara verbal, anak-anak yang tengah jadi korban bullying cukup mudah dikenali. Pada tahap awal, mereka mengeluhkan gurunya (meski tak menyebut secara spesifik apa yang dilakukannya), lalu tak ada ketertarikan berangkat ke sekolah. Pada tingkat lanjut, anak–anak yang jadi korban bullying guru benar-benar menolak sekolah dan mengalami mimpi buruk berkepanjangan, jika tidak sakit. Anak-anak yang trauma dengan bullying guru juga bakal muak dengan sekolah sepanjang masa. Oleh sebab itu, bullying oleh guru, dan oleh siapa pun, harus diakhiri. Sebab, bullying pada tahap yang ringan akan merontokkan kepercayaan diri orang lain, dan pada tahap serius akan merampas jiwa seseorang. Tak ada hak bagi siapa pun untuk melakukannya, apalagi guru yang seharusnya bertugas mendidik mereka! Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Guru Pembully , pendidikan , Budaya

Sumber: RimaNews