Hasil Imbang, Mourinho Masih Bisa Berkelit

, Liverpool – Jose Mourinho masih bisa berkelit. Keputusan yang dibuatnya berakhir bencana, namun dia anggap itu bukan suatu kesalahan. Tragedi itu terjadi sebelum Manchester United akhirnya ditahan imbang Everton 1-1, di Stadion Goodison Park pada Ahad lalu. Saat, Setan Merah –julukan Manchester United—sudah unggul 1-0, melalui Zlatan Ibrahimovic yang mencetak gol dari jarak jauh di menit ke-42. Pada menit-menit akhir babak kedua ketika United sudah hampir mengunci kemenangan, Mourinho memutuskan untuk memasukkan Marouane Fellaini menggantikan Henrik Mkhitaryan pada menit ke-85. Alih-alih untuk menambah gol, sebaliknya Fellaini justru melakukan kesalahan hanya tiga menit setelah masuk lapangan. Wasit Michael Oliver menganggap Fellaini melanggar Idrissa Gana Gueye. Oliver memberi hadiah penalti yang tidak disia-siakan oleh Leighton Baines sebagai algojo. Dia sukses menjebol gawang yang dijaga David De Gea sehingga papan skor berubah 1-1 sampai peluit panjang ditiup. Hasil imbang itu berbuntut sorotan tajam kepada manajer The Red Devils, yang lagi-lagi gagal membawa timnya meraih poin penuh. Dia dituding membuat kesalahan fatal dengan strateginya di babak kedua. Selain itu, Mou dianggap memainkan sepakbola pragmatis sehingga tim lawan bisa leluasa menusuk lini pertahanan United. Namun, bukanlah Mourinho jika tak bisa menjawab tudingan sinis itu. “Ketika tim saya memainkan sepakbola pragmatis dan memenangkan pertandingan serta gelar, Anda mengatakan bahwa hal tersebut tidak benar dan tidak baik,” ujar Mourinho saat jumpa pers. “Ketika tim saya seperti saat ini, bermain dengan sangat baik, Anda mengatakan hal yang penting adalah hasil tanpa peduli hal lainnya.” Kenyataannya, ucapan Mourinho memang tak berbanding lurus dengan hasilnya. Ini Hasil imbang keenam sejak awal Oktober dan tiga kali secara beruntun di ajang Liga Inggris. Sebelumnya, menghadapi West Ham imbang 1-1 pada 27 November lalu, dan menghadapi Arsenal juga seri 1-1 pada 19 November lalu. Kini, Mourinho harus puas tim asuhannya berada di posisi keenam klasemen dengan poin 21, sementara Everton di peringkat kedelapan dengan total poin 20. Selama enam bulan pertama, manajer berusia 53 tahun itu, tidak memberi kesan yang baik di Old Trfford. Bahkan perolehan Mourinho dalam 14 pertandingan terakhir, ternyata jauh lebih buruk daripada pendahulunya, sesuai Alex Ferguson lengser, yakni David Moyes dan Louis Van Gaal pada tahun 2015. Bahkan, Manchester United kini tertinggal 13 poin dari Chelsea, yang memimpin klasemen. Ini menjadi tantangan Mourinho sepanjang karirnya yang dianggap mendapat kesempatan untuk membangun sepak bola Inggris, menyusul kegagalannya menjadi manajer Chelsea. The Blues—julukan Chelsea–, terpuruk di bawah kepemimpinannya. Kini, setelah enam bulan menjadi bos Setan Merah, dia sepertinya mengulang prestasi yang sama dengan hasil yang buruk di Liga Inggris. Dalam laga terkahir, Fellaini juga menjadi sasaran empuk kemarahan pendukung United. Dia mendapat hujan makian di dunia maya, termasuk melalui twitter. Kebanyakan para pengkritik itu mendesak manajemen United untuk menjual pemain asal Belgia itu pada bursa transfer musim dingin, yang dibuka Januari 2017 nanti. Namun, Mourinho tak terima. Dia membela bekas pemain Everton itu. Alasannya menurunkan Fellaini di menit-menit akhir, menurut Mourinho, sudah tepat untuk menghadang bola-bola atas dari permainan lawan. “Everton bukan tim yang mengandalkan operan pendek lagi seperti sebelumnya, Everton tim yang bermain langsung, segalanya langsung. Kiper: langsung, Ashley Williams: langsung, Funes Mori: Langsung, semuanya langsung,” paparnya. Sementara Manajer Everton Ronald Koeman mengatakan bahwa anak-anak asuhnya telah bangkit dan bermain dengan baik. Menurutnya, timnya bisa melawan dan menunjukkan kemampuan. “Kami tidak pantas kalah dan menunjukkan komitmen dan kualitas serta semangat juang di babak kedua.” MANCHESTERUNITED| | | ANTO

Sumber: Tempo.co